PASAR BAWAH : Sejarah Kolonial, Kerja Rakyat, dan Seruit yang Menopang Tanjung Karang
Pasar Bawah Tanjung Karang adalah salah satu simpul kebiasaan itu, “bekerja sunyi, mengisi celah yang ditinggalkan kebijakan”. Ini tidak meromantisasi kemiskinan, dan tidak memuliakan ketahanan sebagai kebajikan. Ia membaca mengapa ketahanan harus terus diproduksi. Dengan sejarah mikro, ekonomi politik, dan antropologi pangan, tulisan ini menelusuri bagaimana eksploitasi diterjemahkan menjadi lapak rendah, porsi kecil, dan etika berbagi di atas lesung batu. Ini dipersembahkan kepada mereka yang tidak pernah masuk laporan, namun memastikan laporan dapat dibuat. Kepada para pedagang Pasar Bawah Tanjung Karang yang menggelar tikar sebelum matahari tinggi dan menggulungnya sebelum sorotan tiba. Kepada dapur-dapur kecil yang memadatkan rasa agar porsi kecil cukup, dan kepada lesung batu yang mengajarkan keadilan tanpa pidato.