Home About
Sunday, 19 April 2026
ENNY ARROW DAN REPUBLIK YANG MEMBACA DIAM-DIAM
Sejarah & Kebangsaan 17 April 2026

ENNY ARROW DAN REPUBLIK YANG MEMBACA DIAM-DIAM

Enny Arrow bukan sekadar nama legendaris dari dunia stensilan bawah tanah. Ia adalah arsip gelap tentang Indonesia: tentang kios sewa, Pasar Senen, terminal, komik silat, roman picisan, sensor Orde Baru, dan masyarakat yang lebih suka membungkam tubuh daripada memahaminya. Tulisan ini membaca Enny Arrow bukan sebagai sensasi murahan, melainkan sebagai gejala budaya, politik, dan ekonomi: hasil dari pertemuan antara larangan, rasa ingin tahu, pasar rakyat, dan kemunafikan moral yang keras ke bawah tetapi sering lunak ke atas. Dari era kios, loper koran, dan stasiun hingga zaman algoritma, buku ini menelusuri bagaimana republik diam-diam membaca dirinya sendiri dari lorong-lorong yang tak pernah masuk panggung resmi.

Indeks Berita

NEGERI OMONG KOSONG: Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI)

NEGERI OMONG KOSONG: Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat

Cara Membaca Bohong, Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat. Mula-mula orang bohong karena takut. Lalu bohong karena perlu. Lama-lama bohong karena terbiasa. Sesudah itu, ia tidak lagi merasa sedang memutarbalikkan kenyataan. Ia merasa sedang mengelola keadaan. Di situlah bahaya besar dimulai, “ketika dusta tidak lagi terasa seperti dosa, melainkan seperti keterampilan”. Kutulis ini untuk membongkar mekanisme itu. Bukan untuk mengajari orang jadi pembohong yang lebih canggih. Bukan untuk memberi lisensi curiga pada semua orang. Tapi agar rakyat biasa, orang rumah, pegawai, buruh, mahasiswa, wartawan, aktivis, pedagang, siapa pun yang hidup di tengah banjir omongan, punya satu alat sederhana: cara memeriksa cerita tanpa jadi dungu, tanpa juga jadi bengis.

05 Apr 2026
Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri
Mistika & Logika

Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri

Dari kebun alpukat Siger di Lampung Timur, pelajaran ini keras dan sederhana. Rakyat harus belajar kembali membaca batu. Bukan untuk menjadi geolog semua, bukan untuk menghapus takjub dari hidup melainkan untuk memurnikan takjub itu dari lumpur mistika. Ilmu bukan musuh keajaiban. Ilmu memurnikan keajaiban dengan menunjukkan bahwa dunia material lebih menakjubkan daripada tahayul apa pun. Batu bukan gaib, tetapi sejarahnya luar biasa. Tanah bukan benda rendah, ia rahim kesuburan. Tubuh bukan kutukan, ia amanah semesta. Hutan bukan semata kawasan, ia syarat hidup yang diam-diam ikut bernapas di dalam tubuh manusia.

25 Mar 2026
Taman Ria: Ketika Bang Ali Membela Pacaran, Bukan Pelacuran
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI)

Taman Ria: Ketika Bang Ali Membela Pacaran, Bukan Pelacuran

Kutipan Bang Ali tentang pacaran menjadi jauh lebih besar daripada kesan jenakanya. Itu adalah pelajaran tata kota. Pelajaran bahwa afeksi, hiburan, dan rekreasi murah adalah bagian dari keadilan spasial. Rakyat jelata, kata Bang Ali, hidup sengsara. Pikiran kita harus sampai ke sana. Kalimat itu seharusnya menjadi ujian moral bagi setiap generasi pembangun Jakarta.

23 Mar 2026
KOTA YANG MEMAKSA ORANG MISKIN MEMBAYAR UNTUK MENJADI MANUSIA
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI)

KOTA YANG MEMAKSA ORANG MISKIN MEMBAYAR UNTUK MENJADI MANUSIA

Tulisan ini tidak datang untuk menenangkan. Ia datang untuk membuat pembacanya tak bisa lagi melihat Jakarta, tubuh, kampung, data, dan masa depan dengan mata yang sama. Ia ingin membuat pembaca sadar bahwa hidup modern bukan cuma soal teknologi dan gedung, tetapi soal siapa yang paling sering dipaksa menanggung akibat dari semua itu. Ia ingin mengingatkan bahwa ilmu tanpa belas kasih hanya akan menjadi menara kosong, dan kemajuan tanpa martabat hanyalah bentuk baru dari penghinaan yang lebih canggih. Dan bila sesudah membaca kisah ini masih ada satu pertanyaan yang tertinggal, mungkin itu adalah pertanyaan yang paling jujur dari semuanya, “kalau bahkan untuk merasa lega pun orang miskin harus membayar, maka kota ini sesungguhnya dibangun untuk siapa?.”

07 Mar 2026
Ramadan di Bawah Bendera Merah
Refleksi Kehidupan

Ramadan di Bawah Bendera Merah

Dalam doktrin keamanan Iran, simbol religius berfungsi sebagai pre-escalation signal. Bendera merah Jamkaran menyampaikan tiga lapis pesan militer: 1. Internal Command Signal Rakyat dipersiapkan secara psikologis bahwa konflik adalah respons moral, bukan agresi. 2. Regional Activation Warning Kelompok sekutu memahami bahwa fase respons terbuka. 3. Strategic Deterrence Message Lawan membaca: setiap tindakan berikutnya berpotensi memicu respons multi-front. Tanpa satu pun deklarasi perang resmi.

01 Mar 2026
Saksi di Antara Dua Zaman
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI)

Saksi di Antara Dua Zaman

Saksi di Antara Dua Zaman. Dari KUHAP Lama ke KUHAP Baru, Negara Mulai Menghitung Waktu Rakyat Perubahan hukum acara pidana tidak hanya menggeser pasal, tetapi juga memindahkan posisi saksi, dari alat bukti yang dipanggil mendadak menjadi warga negara yang hak, waktu, dan keselamatannya diperhitungkan hukum secara eksplisit.

26 Feb 2026
SALAM DARI JIWA YANG TIDAK MATI
Refleksi Kehidupan

SALAM DARI JIWA YANG TIDAK MATI

Di Ramadhan ketiga ini. di atas pusaran kebisingan metropolitan, aku tidak meminta hidup menjadi mudah. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri, terus bertahan, terus berjalan, terus mengalir hingga debu pun mengenal namaku sebagai bagian dari doa.

21 Feb 2026
TANAH YANG MENGINGAT KAKI
Refleksi Kehidupan

TANAH YANG MENGINGAT KAKI

Tanah yang Mengingat Kaki ditulis sebagai catatan ilmiah bukan untuk mengajarkan teknik, bukan untuk menjual keyakinan, melainkan untuk mengembalikan fungsi. Menempatkan tubuh kembali sebagai subjek, bukan sekadar alat yang dipaksa bekerja. Tulisan ini lahir bukan dari saran titah raja atau bisikan ghoib, melainkan dari halaman rumah yang basah oleh embun. Dan tubuh yang akhirnya mau didengar setelah didera tamu tak diundang oleh sel penyusup. Lorong, bau antiseptik, injeksi rumah sakit suatu kebiasaan terpaksa diterima dalam keseharian. Setelah ditempelang, disanalah Tanah yang Mengingat Kaki adalah sebuah cara menjelaskan, “berpijak pada pengetahuan rasional dan istilah ilmiah seperlunya, namun berjalan dengan cerita agar mudah dirasakan oleh tubuh pembacanya”.

19 Feb 2026
ANY WAY THE WIND BLOWS
Refleksi Kehidupan

ANY WAY THE WIND BLOWS

Malam tidak pernah benar-benar sunyi di Blok M. Ia hanya berganti suara. Di sebuah bar kecil, di antara denting gelas dan musik live yang mengalir pelan, empat laki-laki duduk tanpa agenda: pengusaha kafe, advokat, prajurit, dan penjaga parkir. Mereka tidak sedang merancang perubahan besar. Mereka hanya bertahan dengan cerita, tawa pahit, dan bir yang diminum perlahan. Dari meja kayu itulah republik dibicarakan dalam bahasa paling jujur. Tentang kerja yang tidak selalu berujung sejahtera. Tentang hukum yang sering tiba setelah luka mengeras. Tentang kekuasaan yang hadir tanpa suara. Tentang jurang yang makin lebar antara yang kenyang dan yang terus belajar bertahan. Any Way the Wind Blows adalah tulisan ekonomi politik yang lahir dari malam, bukan dari podium. Ia tidak menawarkan heroisme. Ia tidak menjual kemiskinan. Ia hanya merekam manusia sebagaimana adanya rapuh, berpikir, dan tetap berjalan meski arah angin tak bisa dipilih. Di balik angka pengangguran, statistik kemiskinan, dan grafik pertumbuhan, tulisan ini mengingatkan, "selalu ada kehidupan kecil yang luput dicatat, tetapi menentukan watak sebuah republik". Ini bukan kisah kemenangan. Ini kisah bertahan hidup. Dan itu sudah cukup.

17 Feb 2026
HUTAN DILARANG MEMAKAN ANAK SENDIRI
Sejarah & Kebangsaan

HUTAN DILARANG MEMAKAN ANAK SENDIRI

HUTAN DILARANG MEMAKAN ANAK SENDIRI lahir dari pengalaman panjang melihat bagaimana hutan dijadikan dalih untuk menyingkirkan manusia, dan bagaimana manusia dipaksa berhadap-hadapan dengan hukum yang tidak selalu adil. Gunung Balak, Register 38, terletak di Lampung Timur menjadi ruang tempat sejarah berulang. Dari zaman purba, kolonialisme 1935, Orde Baru, hingga Reformasi 1998 dan sesudahnya. Di mana peta kerap berbicara lebih keras daripada suara warga. Di sana, desa bisa hilang dari catatan, tetapi tidak dari ingatan. Di sana, warga bisa disebut perambah, tetapi tetap manusia. Di sana, hidup harus dipertahankan bahkan ketika keberadaan dipersoalkan.

16 Feb 2026

Terbaru

Terpopuler