KUHAP BARU: PAGAR HAM ATAU MESIN KEKUASAAN?
KUHAP BARU: PAGAR HAM ATAU MESIN KEKUASAAN?Hukum acara pidana bukan sekadar pasal, surat perintah, BAP, dakwaan, atau putusan. Di dalamnya ada nasib manusia
KUHAP BARU: PAGAR HAM ATAU MESIN KEKUASAAN?Hukum acara pidana bukan sekadar pasal, surat perintah, BAP, dakwaan, atau putusan. Di dalamnya ada nasib manusia
Tubuh yang gugup belum tentu bohong. Amygdala hijack adalah reaksi ancaman emosional yang harus dibaca dengan metodologi, fakta, kronologi, dan verifikasi
Pohon sakral Nusantara tidak boleh direduksi hanya menjadi dekorasi hijau, dan juga tidak cukup dibicarakan sebagai benda mistis. Ia adalah organisme hidup yang menata udara, menahan panas, menjaga air, memelihara memori kolektif, dan menyediakan ruang hening bagi manusia. Ini adalah upaya merawat cara pandang. Bahwa di tengah dunia yang tergesa, masih ada kebutuhan untuk belajar dari makhluk hidup yang tumbuh perlahan tetapi kokoh. Bahwa di tengah politik yang sering bising, masih ada pelajaran dari beringin, "kebesaran yang tidak ribut, perlindungan yang tidak memilih-milih, dan kehadiran yang bekerja tanpa reklame".
Di tengah zaman ketika manusia suka memonetisasi segalanya, bahkan moralitas, Rabi’ah datang seperti angin padang pasir: kering, panas, tapi membersihkan. Ia membuat kita sadar bahwa yang paling sering rusak bukan ibadah di luar, melainkan niat di dalam. Maka seluruh coretan ssesungguhnya hanya sedang mengerjakan satu hal, "membuka kembali jalan pulang".
Hari ini, setiap kali kita melihat Garuda Pancasila, ingatlah: di balik burung emas itu ada tangan-tangan manusia. Ada nama-nama yang harus disebut. Ada luka yang harus diakui. Ada jasa yang harus dicatat.
Bakteri Panas dari Jawa: Harta Karun Tak Terlihat yang Bisa Bernilai MiliaranThermus javaensis dari Geiser Cisolok belum menjadi produk industri, tetapi ia adal...
Tentang kota-kota hilang di Nusantara dari Trowulan, Sriwijaya, Tulang Bawang, Tambora, Demak, Banten, Banda, hingga Pantura hari ini. Kota tidak hanya hilang karena bencana alam, tetapi juga karena tangan manusia: salah kelola air, konflik elite, perang, eksploitasi, kehancuran adat, dan pembangunan yang menindih daya dukung.
Kisah Piko dan Tupi, anjing kecil dan anak kucing di rumah keluarga Jakarta, mengajarkan bahwa makhluk yang dianggap tak mungkin bersahabat dapat menjadi satu dalam kasih, asuhan, dan rahmat Sang Pencipta.
Toga hitam bukan seragam pasukan gelap. Ia adalah amanah untuk menjaga manusia, hukum, dan keadilan. Advokat boleh membela klien. Tetapi advokat tidak boleh menjual nurani. Membela hak tidak sama dengan membela kebatilan. Menjaga proses hukum tidak sama dengan mengubur kebenaran. Profesi ini lahir dari keberanian, bukan transaksi. Dari kehormatan, bukan ketakutan. Dari nurani, bukan pesanan.
Enny Arrow bukan sekadar nama legendaris dari dunia stensilan bawah tanah. Ia adalah arsip gelap tentang Indonesia: tentang kios sewa, Pasar Senen, terminal, komik silat, roman picisan, sensor Orde Baru, dan masyarakat yang lebih suka membungkam tubuh daripada memahaminya. Tulisan ini membaca Enny Arrow bukan sebagai sensasi murahan, melainkan sebagai gejala budaya, politik, dan ekonomi: hasil dari pertemuan antara larangan, rasa ingin tahu, pasar rakyat, dan kemunafikan moral yang keras ke bawah tetapi sering lunak ke atas. Dari era kios, loper koran, dan stasiun hingga zaman algoritma, buku ini menelusuri bagaimana republik diam-diam membaca dirinya sendiri dari lorong-lorong yang tak pernah masuk panggung resmi.
Cara Membaca Bohong, Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat. Mula-mula orang bohong karena takut. Lalu bohong karena perlu. Lama-lama bohong karena terbiasa. Sesudah itu, ia tidak lagi merasa sedang memutarbalikkan kenyataan. Ia merasa sedang mengelola keadaan. Di situlah bahaya besar dimulai, “ketika dusta tidak lagi terasa seperti dosa, melainkan seperti keterampilan”. Kutulis ini untuk membongkar mekanisme itu. Bukan untuk mengajari orang jadi pembohong yang lebih canggih. Bukan untuk memberi lisensi curiga pada semua orang. Tapi agar rakyat biasa, orang rumah, pegawai, buruh, mahasiswa, wartawan, aktivis, pedagang, siapa pun yang hidup di tengah banjir omongan, punya satu alat sederhana: cara memeriksa cerita tanpa jadi dungu, tanpa juga jadi bengis.