Tan Malaka dan Janji Sebuah Akal Bebas
“Sekali-kali rakyat tidak akan bangkit karena dongeng, tetapi karena pengertian.” Tan Malaka, Madilog
Pentapeturun.id: “Kalau kita tak bisa berpikir jernih, bagaimana kita bisa berbuat benar?”. Begitulah kiranya jeritan batin Tan Malaka saat mencangkul pikiran dalam tanah keras rakyat Indonesia. Dalam Madilog, ia tidak sedang mengajari matematika, logika, atau filsafat saja, melainkan ia sedang mencangkul ladang-ladang hati dan membajak otak-otak kita yang lama tertidur dalam dogma. Ia membangkitkan apa yang disebutnya, “Materialisme Dialektika Logika, senjata rakyat melawan takhayul, feodalisme, dan kebodohan struktural. “ Sebuah ilmu, sekaligus doa. Sebuah logika, sekaligus cinta. Sebuah jalan pikiran, sekaligus jalan pembebasan.
I. Di Antara Kabut dan Kebenaran: Suara yang Tercecer dari Kegelapan
Indonesia, dalam pergulatan sejarahnya yang panjang, bukan sekadar geografi gugusan pulau atau demografi berbilang suku dan agama. Indonesia adalah medan tarik-menarik antara akal dan mitos, antara logika dan loyalitas buta, antara kesadaran dan keterlenaan. Di tengah medan itu, seorang manusia muncul bukan untuk memimpin dari podium, tetapi menyusup ke jantung persoalan bangsa, 'cara berpikir'.
Tan Malaka lahir bukan hanya dari rahim Minangkabau, tetapi dari rahim penderitaan rakyat, dari luka panjang kolonialisme, dari jeda pemikiran antara revolusi dan religiositas. Dalam Madilog, ia menciptakan tidak hanya buku. Ia membongkar mistika yang telah merasuk dan terlembaga dalam tataan masyarakat. Ia menciptakan jalan pikiran, sebuah metode berpikir yang ditulis dari pengasingan, tapi ditujukan untuk memerdekakan akal.
II. Tujuan Madilog: Revolusi Pikiran Sebelum Revolusi Sosial
Madilog adalah akronim dari Materialisme Dialektika Logika, bukan sekadar pengganti dogma lama, tapi fondasi rasional untuk menyusun ulang mentalitas rakyat Indonesia. Tan Malaka melihat bahwa musuh terbesar bangsa ini bukan Belanda, bukan Jepang, bahkan bukan elit lokal. Musuh itu adalah, 'cara berpikir yang terpenjara'. “Kalau rakyat berpikir salah, maka revolusi akan gagal sejak dalam pikiran.”
Sebagai revolusioner yang mempelajari filsafat materialis dari Jerman, logika dari dunia Barat, dan realitas sosial dari penderitaan petani serta buruh, Tan Malaka tidak ingin mengganti mitos dengan dogma baru. Ia ingin rakyatnya berpikir sendiri. Maka Madilog menjadi, “Pisau analisis, “Kitab rasionalitas”, “Peta mental untuk membebaskan diri dari “penjara kepala sendiri”
III. Metode Ilmiah sebagai Kunci: Antara Obyektivitas dan Pembebasan
Tan Malaka menyusun Madilog tidak sebagai filsuf menara gading, tetapi sebagai intelektual organik ala Gramsci, seorang pelayan rakyat yang merumuskan teori berdasarkan kenyataan, bukan imajinasi elite. Kita bisa menyandingkan metode Madilog dengan metode ilmiah klasik, “Langkah Metode Ilmiah Modern”,. “Padanan dalam Madilog”,. “Observasi”. Realitas rakyat di bawah penjajahan dan feodalisme.
Pertanyaan, mengapa rakyat tak kunjung merdeka secara nalar?. Hipotesis, bahwa materialisme dan logika mampu membebaskan. Eksperimen, menggugah pikiran melalui penyadaran logis. Kesimpulan dan Aksi. Revolusi sosial berbasis kesadaran ilmiah. Metodologi ini mendekati falsifikasi Popperian, namun berakar pada realitas kolonial yakni fakta bahwa logika harus berpijak pada kebutuhan sejarah, bukan netralitas laboratorium.
IV. Dari Antropologi hingga Biologi: Madilog dalam Lintasan Ilmu
Dalam perspektif antropologi, Madilog adalah hasil benturan budaya rasional Eropa dengan nalar mistik praktikal rakyat Nusantara. Tan Malaka mengamati langsung warisan budaya lokal yang dipenuhi mitos, perdukunan, dan logika warisan kolonial Belanda yang menindas. Secara sosiologis, ia mengungkap bahwa struktur sosial Indonesia masih dikuasai elit feodal dan kelas menengah yang buta huruf kritis. Maka logika menjadi alat emansipasi sosial, bukan semata-mata alat berpikir.
Dari sisi ekonomi-politik, Madilog adalah kritik terhadap struktur produksi pengetahuan yang dikuasai elite. Ia membayangkan sebuah masyarakat yang berpikir sendiri untuk mengatur alat-alat produksinya, sebuah gagasan yang sejalan dengan teori produksi kesadaran dalam Marxisme. Dalam psikologi massa, Tan Malaka memahami pentingnya “massa yang sadar”. Logika bukan hanya logika pribadi, tapi logika kolektif. Dalam istilah modern, membangun kesadaran kelas melalui pencerahan epistemologis.
V. Rasio dan Ruh: Fusi Sains dan Spiritualitas
Yang paling menggugah dari Madilog bukan hanya logikanya, tapi perjuangan batin Tan Malaka untuk menyatukan akal dan iman, rasio dan ruh. “Akal manusia itu cahaya Tuhan juga. Maka berpikirlah, karena berpikir itu bagian dari sembahyang.” Di sinilah kita menemukan gaya tafsir Tan Malaka, "Bahwa berpikir adalah ibadah. Bahwa revolusi dimulai dari kesadaran. Bahwa pembebasan bukan hanya ekonomi, tapi juga pembebasan jiwa dari penindasan dogma".
VI. Menggerakkan Otak Kanan: Dari Madilog ke Aksi
Setiap halaman Madilog adalah tamparan. Bukan untuk menyakiti, tapi menyadarkan. Ia membakar seperti api kecil dalam sekam, mengajak pembaca, “Bukan hanya merenung, tapi bertindak, “Bukan hanya mengkritik, tapi mencipta, “Bukan hanya belajar, tapi mengajar kembali.”
“Kalau kita bisa membaca dengan logika, maka kita bisa mengubah dunia.”
Ini bukan buku. Ini senjata nalar. Dan hari ini, ketika Indonesia dicekik hoaks, politisasi agama, feodalisme digital, dan kemalasan berpikir, Madilog lebih relevan dari sebelumnya.
VII. Kenapa Kita Harus Membaca Madilog Hari Ini
Karena rakyat yang tak berpikir, akan terus dijajah. Bangsa yang tak punya logika, akan jadi penumpang di kereta sejarah. Akal sehat lebih suci daripada fanatisme. Revolusi sejati dimulai dari akal yang terbebaskan.
@Penta Peturun