Home About
Pemikiran Kritis

IRAN - NETRAL ITU TERLARANG: Jalan Tengah yang Diburu dari Dua Arah

IRAN - NETRAL ITU TERLARANG: Jalan Tengah yang Diburu dari Dua Arah

Pasar Yang Membusuk, Negara Yang Mengetat

Ada negeri-negeri yang runtuh bukan karena kalah perang, melainkan karena uangnya tak lagi dipercaya. Dan ketika uang kehilangan iman, setiap roti, beras berubah menjadi referendum, setiap harga menjadi selebaran, setiap antrean menjelma rapat umum. Kekuasaan boleh menguasai senjata, tetapi ketika perut mulai berbicara, negara harus belajar bahasa yang lain atau memilih bahasa paling tua yang selalu ia kuasai, "kekuatan".



Iran memasuki tahun 2026 dengan bara semacam itu. Bara yang menyala bukan dari istana atau barak, melainkan dari tempat paling purba dalam sejarah politik Teheran, "pasar". Tepat pada tanggal 28 Desember 2025, protes pecah di dua pasar besar pusat kota setelah rial jatuh ke rekor 1,42 juta per dolar AS. Di sanalah denyut rezim selama berabad-abad dijaga bukan oleh pidato, melainkan oleh transaksi.



Ketika mata uang rial jatuh ke rekor terendah, ketika nilai uang merosot hingga tak lagi sanggup menawar hidup, orang-orang berdiri bukan dengan teori, melainkan dengan kata-kata singkat yang lahir dari lapar. Politik pun turun dari menara wacana ke lantai pasar.


Hari-hari berikutnya, api itu merambat. Dari soal harga, ia menjelma pertanyaan yang lebih telanjang, siapa yang berhak menentukan arah hidup?. Kampus, kota-kota, lorong-lorong perumahan menjadi saksi. Aparat menjawab dengan gas air mata, sebuah dialog yang tak pernah berniat memahami, hanya membungkam. Sejarah mengangguk pelan, "ketika negara merasa dikepung, ia akan memilih bahasa yang paling ia kuasai".




“Netral” Sebagai Anomali Dalam Dunia Yang Membelah

Di titik inilah kita memasuki dunia bukan ruang moral, melainkan ruang ketidakpastian. Negara hidup di bawah bayang ancaman. Ia menggenggam dua hal sebagai pegangan terakhir yakni kekuatan dan narasi. Maka “netral” menjadi kata yang dicurigai. Bukan karena netral itu dosa, melainkan karena ia mengganggu kalkulasi. Netral tak bisa dipetakan; ia bukan kawan, bukan lawan. Dalam sistem yang membelah, netral adalah celah. Dan celah selalu dibaca sebagai ancaman.


Iran tahun 2026 memperlihatkan keadaan itu dengan telanjang. Dari dalam, krisis ekonomi menggerogoti legitimasi. Dari luar, tekanan geopolitik membuat setiap gejolak domestik tampak seperti undangan. Ketika pemerintah memutus internet dan panggilan internasional, memisahkan puluhan juta manusia dari dunia luar, makna netral bergeser. Pada 8 Januari, pemerintah memblokir internet dan panggilan telepon internasional untuk “memutus” Iran negara dengan populasi sekitar 85 juta dari pengaruh luar. Di momen seperti ini, netral tidak lagi berarti “tidak memihak”, melainkan “tidak terkendali”. Ia bukan lagi “tidak memihak”, melainkan “tidak terkendali”.




Data Sebagai Senjata & Angka Sebagai Api

Di setiap krisis, pertanyaan sederhana tapi kejam, siapa yang menguasai pengetahuan tentang apa yang terjadi?. Siapa yang menentukan kebenaran di jalanan?. Kita lihat angka-angka yang menggambarkan skala dan ritme. Kronologi angka sejak 28 Des 2025. Rial ke 1,42 juta/USD, protes pecah di pasar pusat Teheran. Pada “hari ke-12” kerusuhan, tercatat setidaknya 42 tewas (termasuk 8 personel keamanan) dan 2.277 ditangkap, serta menegaskan protes bermula 28 Desember dari Grand Bazaar. Angka-angka pun bermunculan, tanggal, korban, penangkapan seolah statistik bisa menenangkan luka. Padahal angka tidak pernah netral. Ia selalu memilih pihak. Ia menjadi peluru argumen.


Negara memakai angka untuk mengecilkan amarah, ini insiden, ini kriminal. Demonstran dan jaringan HAM memakai angka untuk menunjukkan pola, ini sistemik, ini represi. Media global meramu angka menjadi opini, opini menjadi kebijakan. Di dunia yang membelah, data adalah amunisi. Dan ketika data menjadi peluru, netralitas tak punya tempat sebab netral berarti menolak ikut perang narasi.




Politik Paksaan: Pengepungan Tanpa Kapal - Internet sebagai Selat Aegea

Paksaan pun berganti wajah. Jika Athena mengepung Melos dengan trireme hingga gandum tak lagi masuk, negara modern mengepung kota dengan pemutusan komunikasi. Internet menjadi Selat Aegea yang baru. Koordinasi diputus, verifikasi dilumpuhkan, rumor dibiarkan tumbuh liar.


Protes melemah secara logistik, tetapi polarisasi mengeras secara psikologis. Dalam keadaan seperti ini, netral bukan hanya terlarang. Ia mustahil. Untuk bersikap netral, manusia membutuhkan informasi yang relatif utuh. Ketika informasi dipotong, pilihan dibuat oleh emosi, identitas, dan ketakutan.




Khamenei, Trump, dan Perebutan “Makna”

Klimaks, soal nilai masuk dengan keras. Khamenei memperingatkan demonstran agar tidak berkolaborasi dengan pihak asing, menuduh Trump memanfaatkan keresahan publik, bahkan menyebut Trump “berlumuran darah rakyat Iran” sambil memainkan narasi bahwa kerusuhan “menyenangkan Trump”.


Di sisi lain, digambarkan bagaimana Trump melontarkan ancaman agar Iran tidak menindas demonstran dengan kekerasan, dan bagaimana isu ini dipakai dalam komunikasi politik, termasuk kampanye pesan pro-protes.


Di puncak ketegangan ini masuk dengan sepatu besi. Pemimpin tertinggi memperingatkan bahaya kolaborasi dengan pihak asing, menyebut tangan luar sedang bermain. Di seberang, suara dari kekuatan besar mengatasnamakan perlindungan rakyat, menekan agar represi dihentikan. Sebuah bahasa yang bagi rezim sering dibaca sebagai pintu masuk agenda. Dalam bahasa filsafat politik, kita sedang menyaksikan pertarungan Ethos (otoritas moral). Rezim menyatakan, “ini kedaulatan; ini pertahanan dari intervensi.” Lawan menyatakan, “ini hak hidup; ini hak menuntut keadilan.” Kekuatan eksternal menyatakan, “ini perlindungan terhadap rakyat,” tetapi sering dibaca sebagai “pintu masuk agenda.”


Dan di sinilah “netral itu terlarang” menemukan bentuknya yang paling pahit. "Netral dianggap pengkhianatan oleh rezim, dan netral dianggap pembiaran oleh korban di jalanan.




Lapisan Militer: Deterrence yang Menyandera Politik Dalam Negeri

Kerusuhan domestik yang bertemu tekanan geopolitik menjadikan setiap keputusan seperti berjalan di atas kawat. Ancaman serangan pendahuluan dilontarkan, bukan semata sebagai rencana, melainkan pesan. Ancaman dari Kepala Angkatan Darat Iran, Mayjen Amir Hatami, soal kemungkinan serangan “pre-emptive” terhadap Israel dan pangkalan AS. Meminjam bahasa Thucydides yang mengandalkan rasa takut. Namun bagi Aristoteles, ancaman berlebih adalah ekses: jalan menuju overstretch, musuh baru, dan kelelahan internal. Perang luar negeri pun diseret masuk sebagai alat mengikat konflik dalam negeri. Mengubah protes menjadi isu keamanan nasional, memberi legitimasi pada represi sebagai kewajiban negara.




Memori 1953: Stephen Kinzer dan Trauma yang Menjadi Doktrin

Tak ada rezim yang mudah percaya pada “niat baik asing” bila ia hidup di atas kuburan pengalaman. Di balik semua itu, berdirilah hantu lama bernama 1953. Stephen Kinzer menulis bahwa kudeta 1953 adalah “first time the United States overthrew a foreign government” dan itu “set a pattern for years to come”. Ia juga menggaris bawahi bagaimana keberhasilan operasi semacam itu membuat tindakan rahasia dipandang sebagai cara “murah dan efektif” membentuk peristiwa dunia.


Sebuah warisan yang bergaung jauh setelahnya. Kudeta terhadap Mosaddegh bukan sekadar peristiwa. Ia menjadi doktrin kewaspadaan. Dari sanalah tuduhan “agen asing” memperoleh logikanya.


Maka wajar bila rezim Iran 2026 mudah menyebut “agen asing”. Dalam epistemologi keamanan rezim, itu bukan sekadar tuduhan; itu doktrin jangan ulangi 1953.


Namun di sisi lain, justru memori itu bisa menjadi jebakan. Setiap kritik domestik dipersempit menjadi “konspirasi luar”, padahal krisis ekonomi adalah kenyataan yang bisa dipegang lidah dan perut.




Mengapa “Netral” Tidak Punya Ruang di Iran 2026

Maka kita sampai pada kesimpulan yang getir. Netral itu terlarang bukan karena rakyat tak boleh berpikir, melainkan karena struktur krisis memaksa pilihan. Ekonomi menuntut jawaban cepat; bila tak ada, protes membesar. Kontrol komunikasi mempersempit rasionalitas dan memperlebar emosi. Pertarungan narasi global menjadikan penderitaan domestik komoditas geopolitik. Ancaman militer menutup ruang kompromi. Dalam kondisi ini, netral bukan posisi aman. Ia justru sasaran.




Jalan Tengah Aristoteles - Phronesis yang Harus Membumi

Aristoteles pernah mengingatkan tentang phronesis, kebijaksanaan praktis. Jalan tengah yang menuntut keberanian menahan diri ketika semua mendesak untuk menyerang; kebijakan yang membumi ketika narasi besar meminta pengorbanan; pengakuan bahwa kekuatan tanpa legitimasi hanya melahirkan sunyi yang berisik.


Iran, seperti Melos dahulu, sedang diuji bukan hanya oleh musuh di luar, melainkan oleh cara ia membaca dirinya sendiri. Apakah negara ada untuk menjaga hidup yang baik, atau sekadar memastikan bendera tetap berkibar di atas kota yang gelap? Di dunia yang memusuhi netralitas, diam sering dibaca sebagai dosa. Tetapi sejarah berbisik lain, "ketika semua dipaksa memilih, yang hancur pertama kali bukan musuh, melainkan makna itu sendiri".

Dan di situlah tragedi sesungguhnya bermula.


@Penta Peturun

Share this: