Home About
Sejarah & Kebangsaan April 17, 2026

ENNY ARROW DAN REPUBLIK YANG MEMBACA DIAM-DIAM

ENNY ARROW DAN REPUBLIK YANG MEMBACA DIAM-DIAM

ENNY ARROW DAN REPUBLIK YANG MEMBACA DIAM-DIAM

Arsip Gelap Pembangunan, Sensor, Kios Sewa, dan Kemunafikan Nasional



Secara keseluruhan, tulisan ini menyimpulkan bahwa fenomena Enny Arrow adalah hasil dari pertemuan lima unsur besar, “rezim stabilitas dan sensor Orde Baru, budaya baca rakyat melalui kios sewa dan lapak pasar, kegagalan pendidikan tubuh, arsitektur emosi pembaca yang dibentuk oleh cerita stensil (cersil), roman, komik hukuman, lalu bacaan terlarang, serta kemunafikan sosial-politik yang keras ke bawah tetapi selektif terhadap kuasa”. Dari sini lahir satu tesis besar, “Enny Arrow adalah arsip gelap Indonesia”. Ia lahir dari budaya kios sewa rakyat, dibesarkan oleh sensor Orde Baru, ditopang oleh kemunafikan moral yang keras ke bawah tetapi lunak ke atas, lalu menemukan kemungkinan bentuk-bentuk baru di era digital melalui algoritma, nostalgia, dan pasar rasa ingin tahu yang tetap hidup hingga sekarang.

 

“Yang resmi membangun wajah. Yang bawah tanah menyimpan denyut.”

Gaya penulisan Enny Arrow adalah fenomena sastra populer Indonesia era Orde Baru. Pengarang novel stensilan tipis yang beredar sembunyi-sembunyi di Pasar Senen dan pasar gelap sejak 1970-an hingga 1990-an. Karya-karyanya dikategorikan sebagai erotis populer atau “pornografi sastra ringan” bukan sastra tinggi, melainkan hiburan adiktif yang menjangkau jutaan pembaca, terutama remaja laki-laki. Isi tema utamanya berputar pada romansa, nafsu, dan persenggamaan dalam setting domestik kelas menengah Indonesia kompleks perumahan, kontrakan, desa kecil, rumah dinas. Adegan intim mendominasi 40-50% isi buku, digambarkan secara eksplisit dan hiperbolis untuk membangkitkan fantasi. Di luar adegan itu, konflik umumnya sederhana. Tegangan antara kewajiban sosial dan hasrat terpendam, dengan pesan moral ringan di akhir tokoh baik berakhir bahagia, tokoh jahat mendapat ganjaran.

 

Gaya penulisannya deskriptif, gamblang, dan mengalir tanpa metafora rumit, tanpa simbolisme berat. Bahasa mudah dicerna dengan sentuhan kosakata kental Sumatera-Melayu, “menggelinjang, jalang, cumbu, erang, rintih”. Kalimatnya bergerak seperti napas pendek dan terpotong di momen puncak, panjang dan mengalir saat tokoh merenung. Ciri khas lainnya, narasi orang pertama yang pengakuan (confessional), tokoh perempuan yang punya kegelisahan batin sendiri (bukan sekadar objek), dan detail setting kecil-kecil yang membangun suasana sepasang sandal di depan pintu, kipas angin yang berdengung, gelas teh yang belum dicuci.

 

Pengaruh John Steinbeck yang ia pelajari semasa di Seattle terasa pada cara ia membangun karakter dari orang-orang biasa dalam situasi manusiawi yang kompleks, lalu mengadaptasinya ke konteks urban Indonesia. Posisi budaya secara akademis, karya Enny Arrow dibaca sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi patriarki Orde Baru tubuh perempuan digambarkan bebas sebagai ekspresi seksualitas, bukan sekadar objek kontrol sosial. Sosok pengarangnya sendiri hingga kini masih misterius, diduga bernama asli Enny Sukaesih Probowidagdo, dan meninggal tahun 1995 tanpa identitasnya pernah terkonfirmasi secara publik.

 

Dengan demikian, tulisan ini dapat dibaca bukan hanya sebagai esai budaya, tetapi juga sebagai cermin sosial. Ia memperlihatkan bagaimana negara mengatur tampilan, pasar memanen larangan, kios sewa membentuk habitus baca, dan rakyat sering dipaksa menjadi wajah dari dosa yang sesungguhnya jauh lebih besar dan lebih terorganisasi di tempat lain.

 

Nilai utamanya bukan pada sensasi topik serta isi yang penuh birahi, melainkan pada kemampuan menghubungkan budaya bawah tanah, sejarah Orde Baru, dan kondisi digital masa kini dalam satu benang logika yang menyatu. Tulisan ini hendak menegaskan satu kalimat sederhana, “republik ini tidak hanya ditulis oleh pidato petinggi, para pemoral dan undang-undang, tetapi juga oleh rak-rak kecil, kios sewa, stasiun, terminal, pasar, dan bacaan-bacaan yang dipinjamkan dengan suara lirih”. Di sanalah bangsa ini, diam-diam, membaca dirinya sendiri.

 



Buku yang Tidak Pernah Dipajang

 

Ada buku yang dibeli untuk dipajang diruang tamu. Ada buku yang dibeli untuk dihayati, dipelajari. Ada pula buku yang sejak lahir seperti sudah tahu nasibnya sendiri, “tidak akan masuk rak resmi, tidak akan dibungkus sampul bening, dan tidak akan dibaca di bawah lampu terang dengan dada terbuka”. Buku semacam itu dibeli cepat, dilipat rapi, diselipkan ke tas, lalu dibawa pulang seperti orang membawa rahasia.

 

Indonesia pernah penuh dengan buku-buku semacam itu. Bukan benda mewah dan bukan pula barang langka dalam arti mahal. Justru sebaliknya, “murah, tipis, cepat kusam, dan dibuat dari kertas yang mudah kalah oleh keringat telapak tangan”. Tetapi dari semua barang murah yang pernah lewat di pasar-pasar kota, sedikit yang punya nyawa sepanjang itu. Ia bergerak dari kios ke kios, dari saku ke saku, dari mulut ke mulut, dari bisik ke bisik. Di situlah nama Enny Arrow menjadi menarik. Nama ini beredar bukan sekadar sebagai penanda penulis, melainkan sebagai sandi. Sekali disebut, orang yang tahu akan saling melirik. Yang tidak tahu akan bertanya-tanya. Yang pura-pura tidak tahu sering justru paling cepat menoleh.

 

Dalam budaya bawah tanah, yang beredar paling kuat bukan selalu buku, melainkan aura yang menyelimuti buku itu. Fenomena ini lahir pada masa ketika republik sedang dikerjakan dengan bahasa pembangunan, stabilitas, dan ketertiban. Negara ingin segala sesuatu tampak rapi dan mulus di permukaan. Tetapi justru ketika permukaan dipoles terlalu keras, ruang bawah bergerak lebih sibuk. Yang tidak boleh dibicarakan di depan dicari lewat lorong. Yang tidak dapat diakses secara resmi dijual secara diam-diam. Yang ditutup pintu depannya masuk dari belakang.

 

Karena itu, membaca Enny Arrow hanya sebagai bacaan nakal adalah kemalasan intelektual. Yang kita hadapi sesungguhnya jauh lebih besar, “simpul antara represi moral, budaya patriarki, ekonomi cetak murah, nostalgia generasi, dan sejarah literasi informal Indonesia”. Enny Arrow memperlihatkan bahwa sejarah membaca tidak hanya ditulis oleh penerbit besar dan toko buku rapi, tetapi juga oleh trotoar, rak sewa, terminal, stasiun, dan kamar-kamar sempit tempat rasa ingin tahu belajar hidup.



Nama yang Beredar Seperti Desas-Desus 

Siapa Enny Arrow? Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tetapi justru karena sederhana ia bertahan lama. Nama itu beredar terlalu luas untuk dianggap kebetulan dan terlalu lama untuk disebut angin lalu. Namun ketika orang mencoba memegang wajah di baliknya, yang didapat justru kabut. Dalam kebudayaan bawah tanah, yang kabur sering justru lebih kuat daripada yang terang. Nama yang tidak pasti lebih mudah menjelma legenda. Ia bisa menampung banyak cerita, banyak rumor, dan banyak proyeksi. Ada yang menyebut Enny Arrow seorang perempuan, ada yang menduga ia punya latar kewartawanan, ada pula yang menganggap nama itu hanyalah topeng atau merek pasar. Yang bertahan bukan kepastian, melainkan aura. Dan aura, dalam sejarah pasar bacaan, sering lebih mahal daripada biodata.

 

Karena itu, pertanyaan tentang siapa Enny Arrow mungkin tidak akan pernah selesai. Yang lebih penting justru pertanyaan lain, “mengapa nama itu bisa hidup begitu lama?”. Jawabannya bukan pertama-tama pada orangnya, melainkan pada zamannya. Ia lahir dan beredar pada sebuah masa ketika negara ingin segala sesuatu tampak tertib, bersih, dan terkendali, sementara masyarakat tetap memerlukan jalur-jalur gelap untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Nama ini kemudian bekerja sebagai sandi, merek, payung kolektif, dan simbol generasi. Sekali disebut, ia memanggil pasar, kios sewa, lapak buku, tas sekolah, rasa takut ketahuan, dan nostalgia tentang satu masa ketika pengetahuan tentang tubuh dan kedewasaan lebih sering datang dari lorong pasar daripada dari ruang resmi.

 

Di sini Enny Arrow harus dibaca bukan hanya sebagai orang, melainkan sebagai fungsi sosial sebuah nama. Dalam rezim yang terlalu sibuk mengontrol permukaan, nama yang tumbuh di lorong justru lebih kuat sebagai mitos daripada sebagai dokumen. Arsip ingin merapikan, “mitos ingin menyebar”. Dan Enny Arrow hidup jauh lebih kuat sebagai mitos.


 


Pasar yang Menjual Larangan

Di republik yang terlalu sibuk menjaga wajahnya, pasar belajar menjadi ruang belakang. Negara boleh bicara stabilitas, sekolah boleh bicara tata susila, dan keluarga boleh bicara malu. Tetapi pasar berbicara dengan bahasa yang jauh lebih tua daripada semuanya, “apa yang dicari orang, itulah yang akan dijual”. Barang terlarang tidak pernah dijual seperti barang biasa. Ia tidak dipajang terang dan tidak diumumkan dengan poster. Ia hidup dari seni penyamaran. Yang ditaruh di depan mungkin buku Teka Teki Silang (TTS), koran, komik atau majalah hiburan. Tetapi di balik benda-benda yang tampak aman itu, ada transaksi lain yang bekerja lebih halus. Dalam dunia yang diatur oleh sensor dan rasa malu, yang paling mahal bukan semata barangnya, melainkan cara memperolehnya tanpa terlihat ganjil.

 

Pasar seperti ini melahirkan pedagang-pedagang yang tampak seperti psikolog jalanan. Mereka tidak perlu memanggil keras-keras. Mereka cukup membaca jeda suara, tatapan mata, jari yang menahan sampul terlalu lama, atau sikap pura-pura tidak tertarik yang justru terlalu dibuat-buat. Mereka tidak memproduksi keinginan dari nol. Mereka hanya peka melihat luka sosial yang tak bisa dibaca negara.

 

Di sinilah larangan justru menaikkan nilai. Sesuatu yang tersedia bebas belum tentu terasa penting, tetapi sesuatu yang harus dicari diam-diam memperoleh aura. Orang membeli bukan hanya isi, tetapi sensasi melintasi pagar. Dengan begitu, pasar tidak sekadar menjual buku, “ia menjual pengalaman psikologis melanggar larangan”. Karena itu, pasar yang menjual larangan harus dibaca sebagai cermin kemunafikan nasional.Negara menciptakan pagar, pagar menaikkan aura, aura menciptakan pasar, dan pasar lalu menghidupi barang yang dikejar negara. Enny Arrow adalah salah satu contoh paling terang bahwa sensor tidak menghapus permintaan, “sensor hanya mengajarkan pasar cara baru untuk bersembunyi”.


 

Negeri yang Malu Bicara Tubuh

Tubuh selalu hadir, tetapi dalam sejarah sosial Indonesia tubuh jarang benar-benar diberi tempat untuk dibicarakan dengan jujur. Ia hadir di rumah, tetapi dibungkus malu. Ia hadir di sekolah, tetapi dipagari disiplin lebih cepat daripada diterangkan. Ia hadir di negara, tetapi dibawa ke dalam bahasa moral dan ketertiban. Ia hadir di pasar, dan justru di sanalah ia sering tampil paling terus terang.

 

Pada masa Orde Baru, tubuh tidak dipahami sebagai ruang pengetahuan. Tubuh lebih sering diperlakukan sebagai ruang kecemasan. Tubuh bisa memalukan, bisa membawa dosa, bisa mengganggu ketertiban, bisa memancing skandal. Maka tubuh tidak diajak dipahami, “ia dijaga, dikunci, dibungkam, dan ditakuti”. Masalahnya, tubuh tidak pernah benar-benar bisa dibungkam. Ia selalu kembali lewat jalur lain, “lewat komik, roman, cerita silat, gambar hukuman, lelucon remaja, obrolan teman sebaya, dan akhirnya bacaan bawah tanah”. Ketika penjelasan sehat tidak tersedia, rasa ingin tahu tidak mati. Ia hanya menjadi liar.

 

Rumah, sekolah, dan negara lalu menjadi tiga pagar utama. Ketiganya mengajarkan larangan, tetapi tidak memberi kamus. Akibatnya, masyarakat menjadi sangat piawai menyembunyikan, tetapi sangat miskin bahasa untuk memahami. Di titik inilah pasar masuk sebagai guru bayangan. Sayangnya, guru ini tidak mendidik dengan etika dan ilmu, melainkan dengan komoditas, “fantasi, sensasi, mitos, dan rahasia”. Negeri yang malu bicara tubuh hampir selalu menghasilkan kemunafikan. Di depan, tubuh dijaga dengan bahasa suci. Di belakang, tubuh dijual sebagai bahan rasa ingin tahu. Di mimbar, dosa dikhotbahkan. Di kios, jawaban setengah gelap berpindah tangan. Itulah sebabnya fenomena Enny Arrow tidak cukup dibaca sebagai penyimpangan, tetapi sebagai produk sosial dari budaya malu yang gagal menjadi pendidikan.


 


Jalur Gelap Terminal dan Stasiun

Dulu, sebelum algoritma mengambil alih rasa penasaran, republik ini digerakkan oleh terminal dan stasiun. Orang pergi, orang pulang, orang merantau, orang transit, orang menunggu bus malam, dan orang membunuh waktu dengan koran, TTS, komik, atau apa pun yang bisa dibeli murah. Di atas arus manusia itulah banyak hal menumpang, “kaset bajakan, tabloid, buku tipis, rumor, dan bacaan yang tak pernah berani dipajang terlalu terang”.

 

Stensilan seperti Enny Arrow tidak memerlukan gudang besar. Ia cukup memerlukan rute. Pasar Senen, stasiun, terminal besar Jakarta, Kalideres, Kampung Rambutan, Rajabasa, Tanjung Karang, kios koran, dan penyeberangan laut dapat dibaca sebagai simpul logis persebaran bacaan bawah tanah. Bukan karena ada peta resmi yang lengkap, melainkan karena budaya cetak murah sangat mungkin menumpang pada jalur transportasi rakyat.

 

Bacaan bawah tanah tidak memerlukan perusahaan distribusi besar, “ia menumpang pada tubuh rakyat yang bergerak”. Seseorang membeli di Senen, lalu membawanya ke kota lain. Seseorang menyelipkan beberapa eksemplar ke kios terminal. Seorang penjual koran menitipkannya di bawah tumpukan bacaan aman. Dari sana barang bergerak lagi. Dengan demikian, terminal dan stasiun tidak hanya menjadi infrastruktur transportasi, tetapi juga infrastruktur budaya. Di sana orang menunggu, bergerak, berdesakan, menyeberang, dan membawa bukan hanya tubuhnya sendiri, tetapi juga rumor, hasrat, dan bacaan yang tak bisa hidup nyaman di toko resmi.

 

Jalur resmi menjual apa yang disetujui. Jalur gelap membawa apa yang sungguh dicari. Itulah sebabnya republik yang bergerak selalu juga menggerakkan budaya bawah tanah. Dan Enny Arrow adalah salah satu penumpang gelap paling cerdas dalam republik semacam itu pada zamannya.


 


Pasar Senen sebagai Jantung Gelap

Kalau republik ini punya jantung resmi, ia berdenyut di kantor-kantor, kementerian, ruang rapat, dan pidato pembangunan. Tetapi kalau republik ini punya jantung gelap, salah satu denyut terkuatnya pernah terdengar dari Pasar Senen. Senen bukan cuma tempat, “ia adalah cara sebuah kota bernapas”. Pasar Senen mempertemukan perdagangan, mobilitas, percetakan, bacaan murah, kios kecil, loper, stasiun, dan manusia yang datang dengan kebutuhan yang tidak selalu bisa diucapkan terang-terangan. Ia bukan toko buku resmi, tidak menunggu katalog, tidak menunggu ulasan sastra, dan tidak perlu pujian kritikus. Yang membuatnya hidup adalah denyut rakyat, “orang mencari barang murah, barang cepat, dan barang yang kadang tak bisa didapat di tempat yang lebih resmi”.

 

Di ruang seperti pasar dan terminal Senen, sebuah barang tidak harus punya legitimasi untuk laku. Ia hanya perlu dicari. Itu sebabnya Senen menjadi tempat subur bagi seluruh spektrum bacaan populer, “komik, cersil, roman picisan, TTS, tabloid, majalah bekas, hingga bahan-bahan yang tidak pernah nyaman dipajang terang-terangan”. Senen menjual bukan hanya isi halaman, tetapi kemungkinan lolos. Yang dijual adalah rasa berhasil memperoleh sesuatu yang dilarang, rasa tahu jalan masuk ke lorong yang tidak diketahui semua orang, dan rasa menjadi bagian dari republik kecil yang diam-diam membaca hal-hal yang ditolak panggung resmi. Di Senen, yang kabur bukan kelemahan; yang kabur adalah perlindungan.

 

Karena itu Senen harus dibaca sebagai alat ukur kejujuran sosial. Di podium, orang bicara tentang apa yang seharusnya dicari masyarakat. Di Senen, rakyat membeli apa yang sungguh mereka cari. Negara bisa menata panggung, tetapi tak pernah sepenuhnya bisa mengalahkan lorong. Dan Senen adalah salah satu lorong paling jujur dalam sejarah budaya baca Indonesia.


 


Dari Kho Ping Hoo, Fredy S, dan Siksa Neraka ke Enny Arrow

Sebelum republik mengenal Enny Arrow sebagai nama bawah tanah, republik ini lebih dulu punya rak-rak kecil yang membentuk selera baca rakyat. Rak itu sempit, kadang berdebu, kadang menempel di kios kecil dekat sekolah atau pasar. Tetapi dari situlah satu generasi belajar membaca, “cepat, murah, bergilir, emosional, dan diam-diam”. Di rak-rak itu, sebelum stensilan gelap datang, sudah lebih dulu hidup tiga dunia, “petualangan, roman, dan hukuman moral”. Kho Ping Hoo memberi ketegangan petualangan, jurus, pengembaraan, dan serial yang melatih pembaca untuk menunggu kelanjutan. Fredy S memberi gejolak emosi, luka batin, cinta, cemburu, dan roman yang melatih pembaca hidup dari intensitas perasaan. Komik Siksa Neraka memberi rasa takut, dosa, dan hukuman tubuh yang sangat visual.

 

Jika dibaca bersama, ketiganya membentuk tanah psikologis bagi Enny Arrow. Pembaca rakyat dibiasakan mengejar serial, sensasi, emosi, dan guncangan. Mereka belajar bahwa bacaan bisa membuat tegang, membuat haru, membuat takut, lalu nanti membuat penasaran. Maka ketika stensilan gelap hadir, ia masuk ke ladang yang sudah disiapkan.

 

Persewaan kecil membentuk habitus membaca yang sangat khas, “murah, cepat, bergilir, tidak harus dimiliki, bisa dipinjamkan, dan bisa disembunyikan”. Logika ini sangat cocok bagi bacaan bawah tanah. Enny Arrow tidak perlu hidup sebagai buku mewah, “ia justru hidup subur dalam budaya sewa, pinjam, tukar, dan baca kilat”. Karena itu, Enny Arrow tidak datang dari luar. Ia adalah fase lanjut dari budaya baca rakyat. Kho Ping Hoo memberi tegang, Fredy S memberi haru, Siksa Neraka memberi takut, lalu Enny Arrow datang memberi penasaran memancing birahi. Dari sini terbentuk arsitektur emosi yang menjelaskan mengapa bacaan terlarang menemukan pembacanya dengan begitu cepat.


 


Negara, Dosa, dan Tubuh 

Tubuh di Indonesia terlalu sering diperlakukan sebagai ruang kecemasan, bukan ruang pengetahuan. Negara ingin tubuh tertib. Sekolah ingin tubuh sopan. Keluarga ingin tubuh malu. Agama populer sering menghadirkan tubuh sebagai tempat dosa menempel. Pasar melihat tubuh sebagai komoditas rasa ingin tahu. Maka tubuh tidak hidup tenang; ia hidup sebagai wilayah konflik. Pada masa Orde Baru, tubuh tidak dididik untuk dipahami. Ia dibiasakan untuk ditertibkan. Di ruang resmi, tubuh harus rapi. Di rumah, tubuh harus tahu malu. Di sekolah, tubuh harus sopan dan tidak terlalu banyak bicara tentang dirinya sendiri. Tubuh yang dianggap terlalu terbuka atau terlalu mengganggu diposisikan sebagai ancaman moral.

 

Komik Siksa Neraka menjadi salah satu bentuk budaya populer yang menanamkan rasa takut pada tubuh. Dosa divisualkan sebagai hukuman fisik. Tubuh menjadi wilayah yang menakutkan sekaligus tidak pernah dijelaskan dengan cukup sehat. Bagi banyak pembaca muda, ini adalah salah satu pendidikan moral pertama yang sangat membekas.

 

Di titik itulah Enny Arrow menemukan ruangnya, “sebagai jawaban liar atas tubuh yang terlalu lama dipasung oleh rasa malu dan rasa takut”. Ketika negara, rumah, dan sekolah gagal memberi bahasa sehat, pasar masuk. Dan ketika pasar masuk, yang diajarkan bukan literasi tubuh, melainkan campuran rahasia, fantasi, birahi, mitos, dan sensasi pelanggaran.

 

Dari sini tampak bahwa negara, dosa, dan tubuh bukan tiga hal yang terpisah. Mereka bertemu di kepala generasi, di rak-rak sewaan, di kios koran, dan di pasar. Dan dari pertemuan itu republik belajar satu pelajaran pahit: yang paling berisik bicara moral sering justru paling sedikit memberi pemahaman.


 


Arsitektur Larangan Orde Baru

Larangan pada masa Orde Baru bukan sekadar kebiasaan sosial atau kemarahan moral sesaat. Ia dibangun sebagai sistem; ada hukum, ada izin, ada kementerian, ada sensor, ada kejaksaan, dan ada bahasa resmi yang selalu mengulang tiga kata sakti; stabilitas, ketertiban, pembangunan.

 

Selama Orde Baru (1966-1998), pemerintah Soeharto melarang sedikitnya 179 judul buku secara resmi menurut catatan Lembaga Studi dan Avokasi Masyarakat (ELSAM) atau lebih dari 2.000 judul menurut estimasi peneliti dan Human Rights Watch dengan puncak pelarangan pada 1985 sebanyak 30 judul dalam satu tahun. Berlandaskan UU No. 4/PNPS/1963, TAP MPRS No. XXV/1966, dan Instruksi Mendikbud No. 1381/1965. Atas alasan konten dinilai subversif, menyesatkan sejarah, atau bertentangan dengan Pancasila kata Soeharto pada zamannya. Paling banyak dilarang pada masanya adalah Pramoedya Ananta Toer (1925-2006). Sastrawan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Telah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Ia dikenal melalui karya-karyanya yang tajam dalam memotret sejarah, perlawanan dan kemanusian. Terutama Tetrologi buru yang ditulisnya saat menjadi tahanan politik di Pulau Buru

 

Rezim pers dipimpin oleh Departemen Penerangan saat itu Menterinya Harmoko. Ditopang oleh aturan pokok pers dan praktik Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Film ditopang oleh undang-undang perfilman dan lembaga sensor. Barang cetakan dapat diawasi atas nama ketertiban umum. Departemen Penerangan, Kejaksaan, Dewan Pers versi Orde Baru, dan badan-badan lain membentuk ekosistem birokrasi membuat kontrol tidak perlu selalu tampak kasar. Ia bisa hadir dalam bentuk administrasi.

 

Pada 21 Juni 1994, pemerintahan Orde Baru melalui Departemen Penerangan mencabut SIUPP Majalah Tempo, Editor, dan Tabloid Detik lewat SK Menteri Penerangan No.123/KEP/MENPEN/1994. Pembredelan ini dipicu oleh laporan Tempo mengenai perselisihan Menteri Habibie dan Menteri Marie Muhammad soal pembelian 39 kapal perang bekas Jerman Timur sebuah pemberitaan dianggap terlalu kritis terhadap pemerintah. Peristiwa tersebut memantik gelombang demontarsi protes dari mahasiswa, jurnalis, dan aktivis, termasuk almarhum budayawan W.S. Rendra. Goenawan Mohamad dan tim Tempo bahkan menggugat ke PTUN dan sempat memenangkan perkara di tingkat pertama, meski akhirnya kalah di Mahkamah Agung. Majalah Tempo baru kembali terbit secara resmi pada 1998, setelah Soeharto mundur dari jabatannya.

 

Inilah titik pentingnya, “Orde Baru tidak cukup bicara moral”. Ia membangun mesin untuk mengadministrasikan moral. Begitu sesuatu dianggap mengganggu stabilitas, pembredelan bisa dilakukan. Begitu sesuatu dianggap mengganggu ketertiban umum, pengamanan barang cetakan bisa dijalankan. Yang dipakai bukan hanya pasal, tetapi juga bahasa besar yang sukar ditolak, “demi pembangunan, demi keamanan, demi stabilitas nasional”.

 

Akibatnya, negara terlalu sibuk merapikan permukaan. Dan justru karena permukaan terlalu dipoles, ruang bawah tanah menjadi subur. Apa yang tak bisa hidup di permukaan akan selalu mencari lorongnya sendiri. Bacaan seperti Enny Arrow, kios sewa, TTS, terminal, dan pasar bawah hidup bukan di luar negara, melainkan di bawah bayang-bayang negara. Kadang-kadang, bayang-bayang yang terlalu besar justru membuat lorong kecil tampak lebih aman daripada jalan raya. Di situlah republik bawah tanah belajar bertahan, “bukan dengan kemenangan besar, tetapi dengan keberlangsungan kecil yang terus diulang dari satu tangan ke tangan lain”.


 


Dari Orde Baru ke Algoritma

Kalau dulu bacaan bawah tanah hidup lewat kios sewa, terminal, stasiun, dan loper koran, hari ini bentuk serupa akan hidup lewat grup privat, PDF, screenshot, feed, dan algoritma. Yang berubah adalah medianya. Yang belum banyak berubah adalah republik yang masih sering lebih suka menutupi tubuh daripada memahaminya. Dulu distribusi fisik bergantung pada tubuh manusia yang bergerak. Hari ini distribusi bergantung pada data manusia yang bergerak. Dulu penjual membaca mata pembeli. Hari ini platform membaca klik, jeda tontonan, dan perilaku pengguna. Dulu lorong itu bernama terminal, “sekarang ia bernama algoritma”.

 

Sensor juga berubah bentuk. Dulu ia datang dari kementerian, SIUPP, lembaga sensor, dan pejabat negara. Sekarang ia sering hadir sebagai kebijakan platform, report massal, moral panic digital, shadow moderation, dan ekonomi atensi. Tetapi struktur dasarnya tetap sama, “rasa ingin tahu yang tidak diberi bahasa sehat dengan akal sehat akan selalu dicari jalannya, dan pasar akan selalu lebih cepat mengisi kekosongan dibanding institusi resmi”. Karena itu, jika Enny Arrow baru muncul hari ini, ia tidak harus hadir sebagai stensilan. Ia bisa hadir sebagai akun, file, nama, legenda, PDF, serial digital, atau potongan-potongan narasi yang menyebar lewat algoritma. Yang berubah adalah alatnya; yang tetap sama adalah luka sosial yang membuat bentuk semacam itu selalu punya pembacanya.

 

Dengan demikian, dari Orde Baru ke era digital, struktur yang melahirkan Enny Arrow tidak sepenuhnya hilang. Ia hanya berganti medium. Dulu rasa ingin tahu bergerak lewat kios, terminal, dan stensilan. Hari ini ia bergerak lewat grup privat, file digital, dan algoritma. Yang berubah adalah medianya, ”yang tetap sama adalah masyarakat yang masih kerap gagal memberi bahasa sehat tentang tubuh”.


 


Refleksi Perbandingan: Dulu dan Sekarang

Apa yang berubah, dan apa yang tetap? Yang tetap adalah tubuh masih menjadi wilayah cemas. Dulu tubuh dibungkam lewat sensor negara, rasa malu, dan bahasa moral resmi. Sekarang kecemasan itu hidup lewat penghakiman sosial, moral panic digital, dan viralitas. Yang tetap juga adalah pasar lebih cepat dari institusi. Dulu kios dan lapak masuk ketika rumah, sekolah, dan negara gagal. Sekarang algoritma dan platform masuk ketika lembaga masih lamban.

 

Yang tetap berikutnya adalah kemunafikan. Dulu gejala permukaan diburu sementara struktur kuasa sering lolos dari sorot. Sekarang bentuknya lebih cair, tetapi pola itu masih sering terasa. Yang berubah adalah mediumnya. Dulu sentralistik, sekarang algoritmik. Dulu distribusi fisik, sekarang distribusi digital. Dulu rahasia lokal, sekarang rahasia massal.

 

Dari perbandingan ini lahir satu ide penting. Yang harus dibedah bukan hanya isi bacaan bawah tanah, tetapi juga infrastruktur sosial yang membuatnya perlu. Jika masyarakat sungguh ingin mencegah bentuk-bentuk gelap yang terus berulang, jawabannya bukan sekadar razia, sensor, atau penghakiman moral. Jawabannya adalah membongkar kekosongan pendidikan tubuh, budaya malu yang tidak produktif, kemunafikan sosial, dan logika platform yang memanen rasa ingin tahu tanpa tanggung jawab.

 

Kita harus berhenti bertanya hanya bagaimana melarang. Kita harus mulai bertanya mengapa bentuk seperti ini terus dibutuhkan, mengapa pasar selalu lebih siap daripada institusi, dan mengapa negara serta masyarakat lebih suka menjaga citra daripada membangun pengertian. Di situlah pembacaan tentang Enny Arrow melampaui nostalgia dan menjadi cara membaca Indonesia hari ini. Yang perlu diubah bukan hanya distribusinya, melainkan syarat-syarat sosial yang membuat distribusi itu selalu menemukan pembacanya. Selama syarat itu dipelihara, republik akan terus membaca diam-diam, apa pun medium yang dipakainya.


 


Republik yang Masih Membaca Diam-Diam

Pada akhirnya, Enny Arrow tidak bisa dibaca hanya sebagai nama, hanya sebagai stensilan, atau hanya sebagai bacaan bawah tanah. Ia lebih tepat dibaca sebagai arsip gelap sebuah zaman. Arsip tentang bagaimana negara membangun permukaan yang rapi, sambil membiarkan lorong-lorong sosial bekerja diam-diam di bawahnya. Arsip tentang bagaimana pembangunan, stabilitas, dan moral dipakai sebagai bahasa resmi untuk menata tampilan republik. Arsip tentang bagaimana rakyat, ketika tak diberi bahasa yang sehat tentang tubuh, hasrat, rasa takut, dan kedewasaan, akhirnya belajar dari pasar.

 

Enny Arrow adalah produk sampingan dari Orde Baru. Tetapi ia juga lebih dari itu. Ia adalah cermin dari kegagalan pendidikan tubuh. Ia adalah produk dari budaya kios sewa rakyat. Ia adalah simpul dari komik, roman, rasa takut, dan rasa penasaran. Ia adalah bukti bahwa republik bawah tanah kadang lebih jujur daripada podium.

 

Bila negara Orde Baru ingin republik tampak putih seperti salju di permukaan, maka Enny Arrow adalah noda yang justru membuktikan bahwa salju itu tidak pernah benar-benar murni. Ia bukan sekadar buku yang diselipkan. Ia adalah jejak jari sebuah zaman. Jejak bahwa di balik pembangunan lima tahun, sensor, moral resmi, dan wajah republik yang ingin tampak bersih, selalu ada lorong-lorong tempat masyarakat membaca dirinya sendiri secara diam-diam. Dan mungkin sampai hari ini pun republik itu belum benar-benar berubah. Ia hanya mengganti kios menjadi feed, terminal menjadi platform, loper menjadi algoritma. Tetapi selama tubuh masih lebih sering ditutupi daripada dipahami, selama moral lebih sering dipakai sebagai topeng daripada sebagai jalan etis, dan selama pasar masih lebih cepat membaca luka sosial daripada negara, republik ini akan terus membaca diam-diam.

 

Di situlah makna terdalam tulisan ini. Bukan untuk memuja kegelapan, bukan untuk menghidupkan sensasi, melainkan untuk mengatakan dengan jujur, “bangsa ini tidak hanya hidup dari apa yang diakuinya, tetapi juga dari apa yang selama ini disembunyikannya”. Dan kadang-kadang, justru di bagian yang disembunyikan itulah sejarah paling jujur tinggal paling lama. “Yang resmi membangun wajah. Yang bawah tanah menyimpan denyut.”

 

Secara keseluruhan, tulisan ini menyimpulkan bahwa fenomena Enny Arrow adalah hasil dari pertemuan lima unsur besar, “rezim stabilitas dan sensor Orde Baru, budaya baca rakyat melalui kios sewa dan lapak pasar, kegagalan pendidikan tubuh, arsitektur emosi pembaca yang dibentuk oleh cersil, roman, komik hukuman, lalu bacaan terlarang, serta kemunafikan sosial-politik yang keras ke bawah tetapi selektif terhadap kuasa”. Dari sini lahir satu tesis besar, “Enny Arrow adalah arsip gelap Indonesia”. Ia lahir dari budaya kios sewa rakyat, dibesarkan oleh sensor Orde Baru, ditopang oleh kemunafikan moral yang keras ke bawah tetapi lunak ke atas, lalu menemukan kemungkinan bentuk-bentuk baru di era digital melalui algoritma, nostalgia, dan pasar rasa ingin tahu yang tetap hidup hingga sekarang.

 

Dengan demikian, tulisan ini dapat dibaca bukan hanya sebagai esai budaya, tetapi juga sebagai cermin sosial. Ia memperlihatkan bagaimana negara mengatur tampilan, bagaimana pasar memanen larangan, bagaimana kios sewa membentuk habitus baca, dan bagaimana rakyat sering dipaksa menjadi wajah dari dosa yang sesungguhnya jauh lebih besar dan lebih terorganisasi di tempat lain. Nilai utamanya bukan pada sensasi topik, melainkan pada kemampuan menghubungkan budaya bawah tanah, sejarah Orde Baru, dan kondisi digital masa kini dalam satu benang logika yang menyatu.

 

Pada titik paling akhir, tulisan ini hendak menegaskan satu kalimat sederhana, “republik ini tidak hanya ditulis oleh pidato, para pemoral dan undang-undang, tetapi juga oleh rak-rak kecil, kios sewa, stasiun, terminal, pasar, dan bacaan-bacaan yang dipinjamkan dengan suara lirih”. Di sanalah bangsa ini, diam-diam, membaca dirinya sendiri.


Share this: