Home About
Penta Peturun November 18, 2025

๐ŸŒฟ Doa Asap, Kopi, dan Pohon-Pohon Cahaya di Puncak Pangrango

๐ŸŒฟ Doa Asap, Kopi, dan Pohon-Pohon Cahaya di Puncak Pangrango

๐ŸŒฟ Doa Asap, Kopi, dan Pohon-Pohon Cahaya di Puncak Pangrango



Di puncak Gunung Pangrango,

di antara kabut yang turun seperti jubah malaikat,

aku duduk bersila di bangku kayu,

di bawah pohon-pohon tinggi yang menulis puisi di kulit langit.


Tanganku menggenggam Dji Sam Soe berpipa Gading Gajah,

tembakau kering yang dibungkus hati-hati,

bara merahnya menari di ujung pipa,

asapnya menjelajah paru,

mengiring doa tipis ke punggung awan.


Di sampingku, cangkir kopi berdenting pelan,

menumpahkan hangat di dada yang selalu lupa bersyukur.

Angin dari punggung Pangrango datang membawa nyanyian.

"Hirup pahit ini, hirup asap ini, karena di sini engkau diampuni hujan dan dihapuskan beban kota."


Gunung Pangrango, sang penjaga barat Jawa,

berdiri anggun di ketinggian 3.019 meter di atas permukaan laut (mdpl),

satu tubuh dengan Gunung Gede,

membentuk benteng hijau bagi Cibodas, Cipanas, dan semua desa di kakinya.

Namanya diambil dari kata โ€˜Pangโ€™ (tempat tinggi) dan โ€˜Rangoโ€™ (mulia).

Disebut pula dalam babad Sunda, sebagai puncak keramat tempat bertapa para leluhur,

tempat hujan disulam jadi sungai.


Di pangkuan Pangrango inilah,

pohon-pohon jati tetap merapal phytoncides,

tectoquinone, lapachol, terpen,

berhembus bersama kabut pagi,

mencuci paru-paru manusia kota

yang datang membawa debu dosa.


Dji Sam Soe berpipa Gading Gajah kuhisap perlahan,

mengingatkan bahwa waktu tak usah dikejar,

karena Pangrango sudah berdiri jutaan tahun

sebelum kita mengeja kata 'lelah'.


Wahai Pangrango, wahai jati, wahai angin penenun awan.

Sampaikan sujudku pada bumi di bawah,

pada akar yang mengikat tebing,

pada burung yang menunggu pagi.


Ya Allah,

biarkan puncak ini jadi sajadahku,

biarkan Dji Sam Soe berpipa Gading Gajah jadi tasbihku,

biarkan kopi jadi doa pahitku,

dan biarkan Engkau sendiri menulis namaku di antara pohon jati

yang menua, namun tak pernah lupa bersyukur

di atas langit Pangrango.


@Penta Peturun

Share this:

Further Reading